Selasa, 11 Maret 2008
Minggu, 09 Maret 2008
Kuku Bima Sun Set Pangestu Hadi
Diposting oleh bj-sanse member of Kediri Indonesia Sansevieria Soceity (KISS) di 22.57 0 komentar
Label: francisii, Sansevieria
Double Mercy Pangestu Hadi

Nah ini dia koleksi dari sahabat BJ Sanse milik Pangestu Hadi yang dia namakan Kuku Bima Double Mercy
Diposting oleh bj-sanse member of Kediri Indonesia Sansevieria Soceity (KISS) di 22.47 2 komentar
Label: Fischeri, Sansevieria
Senin, 03 Maret 2008
Brawijaya Flora Vaganza
Lapangan Makodam Brawijaya, Surabaya, seolah jadi ajang balas dendam kekalahan jagoan Jawa Tengah pada 19 Januari 2008. Saat itu Sansevieria patens-asal Surabaya-berhasil melibas jagoan-jagoan Jawa Tengah pada kontes lidah mertua di Blora. Namun, dalam hitungan 12 hari, Sansevieria hibrid milik WS Garden dan S. pagoda milik Hanti dari Yogyakarta membalikkan keadaan dengan menjadi juara di Kota Buaya.
Lomba sansevieria memperingati HUT ke-62 Kodam Brawijaya itu pantas menjadi perhatian. Tiga puluh delapan tanaman yang berlaga datang dari 2 poros utama lidah mertua saat ini: Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Di 2 provinsi itu, geliat sansevieria merebak hingga ke kota-kota kecil seperti Wonosobo, Kebumen, dan Blitar. Kontes pun kerap diadakan. Utusan dari Jawa Tengah turun dengan kekuatan penuh di kontes Makodam Brawijaya, Surabaya. Begitu berpartisipasi, kursi jawara di semua kelas sansevieria langsung disabet. S. pagoda berwarna hijau kuning cerah milik Hanti dari Yogyakarta berjaya di kelas trifasciata. Disusul S. superba milik Suyanto Subekti dari Temanggung di tempat ke-2.
Di kelas nontrifasciata, juri terdiri dari Ahmad Irfan, Wibowo, Seto Gunawan, dan Agus Gembong Kartiko sepakat menobatkan Sansevieria hibrid sebagai kampiun. Sansevieria milik WS Garden dari Yogyakarta itu unggul lantaran sekitar 15 lembar daunnya tersusun rapi dan roset. Kedewasaan lidah mertua berumur lebih dari 3 tahun jadi poin tambahan. Di tempat ke-2, lagi-lagi diraih S. robusta dari Temanggung. Sebuah kemenangan yang wajar karena lidah jin yang relatif jarang turun kontes itu dewasa dengan warna hijau cerah. Hanya kulit batang yang sedikit keriput membuatnya mengalah dari sang jawara.
Sayang, kemenangan Jawa Tengah mengalahkan 38 peserta lain terasa kurang sempurna. Musababnya, banyak jagoan asal Jawa Timur urung turun. Misal S. patens yang berjaya di kontes di Universitas Surabaya pada Desember 2007 dan kontes di Blora pada 19 Januari 2008. 'Jagoan Jawa Timur memang tak banyak tampil kali ini,' kata Agus Gembong KartikoDicuplik dari : Trubus-online.com
Diposting oleh bj-sanse member of Kediri Indonesia Sansevieria Soceity (KISS) di 23.00 0 komentar
Label: Sansevieria
Minggu, 02 Maret 2008
Agar si Belang Prima
Sansevieria caulescens variegata koleksi Pramote Rojruangsang di Pathumthani, Thailand, itu berumur 8 tahun. Penampilannya sehat dan prima. Tak satu pun daun cokelat terbakar matahari. Padahal sifat variegatanya kuat: warna kuning gading mendominasi. Kontras dengan anggapan banyak orang: tanaman variegata-apalagi albino-sulit bertahan hidup.
Sah-sah saja jika banyak yang beranggapan begitu. Jumlah kloroplas tanaman variegata lebih sedikit daripada tanaman normal. Akibatnya, penyerapan cahaya matahari tidak optimal. Kerja mengubah karbondioksida menjadi gula sebagai sumber energi dan makanan bagi pertumbuhan pun terhambat. Makanya, tanaman variegata lebih lemah dibandingkan yang normal. Si belang butuh perawatan ekstra agar tetap sehat dan prima.
Salah satunya penggunaan jaring peneduh. Jaring mengurangi intensitas cahaya matahari yang diterima tanaman. Semakin besar persentase variegata, kebutuhan cahaya semakin sedikit. Itu karena grana yang terdapat di dalam kloroplas yang berfungsi menangkap sinar matahari jumlahnya sedikit.
Intensitas rendahGrana terdiri atas setumpuk tilakoid berupa gelembung bermembran, pipih, dan seperti cakram. Membran tilakoid menyimpan pigmen-pigmen fotosintesis dan sistem transpor elektron yang terlibat dalam fase fotosintesis yang bergantung pada cahaya. Pada tanaman variegata, dengan cahaya sedikit sudah mencukupi kebutuhan grana,' kata Dr Soeranto Hoeman, peneliti di Bidang Pertanian Kelompok Pemuliaan Tanaman di PATIR-BATAN. Bila intensitas cahaya tinggi, bagian variegata terbakar karena jumlah cahaya masuk melebihi kapasitas grana.
Cahaya matahari langsung juga menyebabkan warna variegata pudar. 'Kelainan sel-sel pada tanaman variegata rusak sehingga terurai jadi putih,' ujar Bambang Hermanto, MSc, peneliti bidang geologi di P2O-LIPI yang juga hobi sansevieria. Selain itu, intensitas cahaya yang tinggi menyebabkan metabolisme tanaman lebih aktif sehingga mendorong pembentukan klorofil lebih banyak. Pigmen lain seperti karotenoid pun terhambat. Dengan demikian warna hijau pada tanaman variegata lebih banyak muncul dibandingkan kuning atau putih.
Makanya, jaring peneduh mutlak digunakan untuk melindungi tanaman variegata. Pramote meletakkan caulescens variegata di bawah naungan jaring 50%. Dr Purbo Djojokusumo di Pancawati, Bogor, menata lidah mertua variegata di bagian belakang nurseri yang terlindungi paparan sinar matahari. Itu ditambah penggunaan plastik UV yang mampu mengurangi paparan ultraviolet hingga 14%. Namun, 'Sebaiknya tetap menggunakan shading net 50-60% untuk sansevieria variegata atau sansevieria kuning seperti california dan goldflame agar daun tidak pucat,' kata Purbo. Itu diamini Edi Sebayang, hobiis di Tangerang, Banten.
NutrisiFaktor lain supaya variegata prima adalah pemupukan. Tanaman variegata rentan terhadap magnesium, besi, dan nitrogen tinggi. Mg dan Fe merupakan unsur pembentuk dan katalis dalam sintesis klorofil. Sedangkan, 'Nitrogen tinggi memacu tanaman memproduksi klorofil sehingga variegata berkurang,' ujar Bambang. Itu yang terjadi pada masoniana variegata koleksi Edi.
Pada Maret 2007 sekitar 15 pot masoniana berwarna hijau-kuning diboyong ke kediamannya di Tangerang. Sansevieria itu kemudian ditanam dalam media campuran pasir malang, kompos, fermentasi kotoran kambing, dan sekam bakar dengan perbandingan 5:1:1:3. Perawatannya, pupuk berkadar N tinggi. Selang 4 bulan terjadi perubahan. Warna yang semula kuning perlahan menjadi pudar dan hijau semakin banyak. Belajar dari pengalaman itu kini semua sansevieria variegata koleksi ditanam dalam media pasir 100% dan diberi pupuk seimbang.
Purbo memberikan pupuk lambat urai dengan dosis seimbang yang dicampur ke dalam media. Untuk pot berdiameter 20 cm dosisnya 2 sendok teh. Sementara pot berdiameter 35-40 cm, 2 sendok makan pupuk dicampur dengan media dan 1 sendok makan pupuk ditabur di atas media. Pramote hanya memberikan pupuk lambat urai 14-14-14 sebanyak satu sendok teh untuk pot berdiameter 25 cm setiap 3 bulan. Dengan cara itu S. caulescens variegata tetap tampil prima. (Rosy Nur Apriyanti)
Diambil dari : trubus-online.com
Diposting oleh bj-sanse member of Kediri Indonesia Sansevieria Soceity (KISS) di 22.05 0 komentar
Label: Sansevieria
Rabu, 20 Februari 2008
Sansevieria Laris, Tanya Kenapa?
Pernah mendengar nama tanaman lidah mertua? Tanaman yang juga disebut tanaman ular alias sansevieria ini sebenarnya tidak terlalu istimewa bagi masyarakat. Lihat saja sekeliling, tumbuhan ini ada di pekarangan, di pinggir jalan, di taman kota, atau di taman-taman gedung perkantoran.
Tapi, siapa nyana tanaman yang masih satu keluarga dengan kaktus ini mulai diburu banyak orang. Mulai tahun 2000 hingga 2002, permintaan akan lidah mertua menjulur begitu pesat dan mencapai juluran terpanjang tahun 2004, dan terus menjulur hingga kini.
Bayangkan pengalaman Lanny Lingga, petani tanaman hias di bawah bendera Seederama Trading dan Marlan Nursery, yang juga menulis buku soal sansevieria. Tahun lalu, kebun miliknya seluas 3 ha di kawasan Sukabumi yang ditanami 25.000 tanaman lidah mertua sudah siap panen. Eh, pencuri menggasaknya habis dalam tiga hari berturut-turut. "Malah di atrium Senen itu dicolong juga. Ada orang yang kalau malam suruh cabutin, karena laku banget waktu itu," kata Lanny mengisahkan perburuan tanaman sansevieria alias ular atau lidah mertua.
Antipolusi dan antiradiasi
Maraknya permintaan akan tanaman ini bukan cuma membuat banyak pemain lokal yang ikut membudidayakannya. Bahkan, tak sedikit orang asing yang terjun langsung dan membeli dari petani-petani untuk diekspor. "Lama-lama banyak juga orang Korea asli yang kesini, dan menjadi eksportir. Mereka membeli sansevieria dari Indonesia dan menjualnya di pasar mereka sendiri di Korea," tutur Grace Setyadharma, Direktur PT Hujanmas Florestika Kencana, salah satu perusahaan yang ikut berbisnis sansevieria.
Lantaran tingginya permintaan, harganya tentu saja ikut membubung. Lidah mertua biasanya dijual dalam pot plastik hitam kecil, dan harganya dihitung per helai daun. Satu pot sering cuma terdiri dari tiga hingga lima helai daun. Dua tahun silam harganya masih sekitar Rp 500 -Rp 700 per daun. Sekarang harganya sekitar Rp 1.500- Rp 4.000 per daun, tergantung jenis dan ketinggian daunnya.
Kalau tanaman Anda tergolong memiliki kelainan atau jenis yang langka, harganya bisa mencapai jutaan rupiah per pohon. "Kalau yang kelainan itu mahal, bisa 1.000 kali dari harga normal. Misal kuning semua, hijau semua, atau berkelok-kelok," ujar Lanny. Grace juga bilang begitu. Untuk sansevieria berbentuk mawar atau sansevieria trifasciata futura, harga per daunnya bisa mencapai US$ 30.
Tanaman sansevieria ini punya penggemar di berbagai masyarakat dunia, mulai dari Jepang, Taiwan, Korea, hingga di Eropa dan Amerika. Ada yang bilang, tanaman ini dapat menyerap polusi di sekitarnya, sehingga banyak orang yang meletakkannya di dalam rumah atau menanam di halaman. Ada juga yang percaya tanaman ini bisa dijadikan obat diabetes, wasir, hingga kanker ganas. Bahkan, sebagian masyarakat Korea percaya tanaman ini dapat menghilangkan berbagai radiasi, sehingga mereka memburunya hingga ke seantero jagat. Bangsa China pun percaya tanaman ini membawa keberuntungan bagi yang memeliharanya. Di Thailand, ekstrak sanseivieria kabarnya sudah dikembangkan menjadi obat kanker dengan harga mencapai Rp 700.000 per kapsul.
Lepas dari berbagai kepercayaan tersebut, belum ada riset ilmiah yang bisa membuktikannya. Satu yang pasti, sansevieria sangat mudah hidup di mana saja, di tempat yang banyak polusi udara yang membuat tanaman lain mati, di tempat yang miskin cahaya. Lidah mertua juga tak butuh banyak air. Dia cuma butuh 26 mililiter per tanaman per minggu. "Di ruangan, setengah bulan enggak disiram enggak soal. Makanya di luar negeri itu laku banget, karena bisa ditaruh di dalam ruangan dalam waktu lama," tandas Lanny.
Karena permintaan yang tinggi itulah dalam setahun Lanny mengekspor sansevieria lima kontainer masing-masing berisi 40.000 tanaman. Adapun harga jual per potnya dipatok US$ 2-US$ 3,50. Jadi, sekali kirim ia bisa menggenggam duit ratusan juta rupiah. Dalam setiap pameran flora pun nyaris setiap peserta menjual sansevieria dengan stok ratusan pot. Permintaan pasar dari luar negeri, menurut Grace, bahkan mencapai satu kontainer setiap minggu.
Tertarik mencicipi empuknya bisnis sansevieria? Gampang, kok. Coba saja menanamnya dulu. "Sansevieria ini mudah hidup di mana saja. Yang penting jangan di luar pagar, nanti diambil orang," kata Grace sambil tertawa lebar.
Hanya, patut diingat, permintaan dari luar negeri, terutama Eropa dan Amerika, juga ada siklusnya. Di musim dingin seperti sekarang biasanya permintaan turun dan baru naik lagi saat musim semi, lalu mencapai puncaknya di musim panas.
+++++
Satu Tanaman Bermacam Nama
Nama sansevieria mungkin masih asing terdengar di kuping masyarakat awam. Di Indonesia tanaman ini lebih dikenal dengan nama tanaman ular atau lidah mertua (mother-in-law's tongue).
Tanaman tropis ini memang memiliki banyak nama. Di antaranya century plant, lucky plant, snakeskin plant, good luck plant, dan african devil's. Setiap negara juga memiliki nama berbeda. Di Jerman, tanaman ini disebut bogenhanf, di Prancis chanvre d'arique, dan di China disebut pak lan, sweet mei lan, atau juga ylang ylang. Tanaman ini telah lama populer di China dan menjadi tanaman hias di dalam ruangan, bahkan sering ditempatkan di vihara-vihara. Pertumbuhan sansevieria yang simetris, menurut bangsa China, menunjukkan keserasian yang tergambar sebagaimana yin dan yang.
+++++
Rupa Ragam Lidah Mertua
Sansevieria memiliki banyak varian dengan harga berbeda-beda. Selain faktor jenis tanaman yang langka, tingginya harga si lidah mertua ini juga lantaran tren. Misalnya, tahun ini yang sedang tren adalah jenis sansevieria trifasciata lorentii, yaitu berwarna hijau dengan pinggiran kuning. Harga sansevieria jenis ini per daun setinggi 40 cm sekitar Rp 1.500, sehingga harga per tanaman yang terdiri dari tiga-empat daun adalah Rp 4.500-Rp 6.000.
Untuk tahun depan, menurut Grace Setyadharma, Direktur PT Hujanmas Florestika Kencana, salah satu pemain sansevieria, yang bakal tren adalah jenis sansevieria trifasciata futura. "Dia mirip dengan laurentii, tapi bentuknya seperti mawar," tutur Grace.
Sesungguhnya, ada ratusan rupa dan ragam sansevieria dengan daerah asal yang berbeda-beda, mulai dari negara-negara di Afrika Timur, Arab, India Timur, Asia Selatan, hingga beberapa pulau di Samudra Pasifik. Beberapa yang terkenal, menurut Lanny Lingga, petani tanaman hias di bawah bendera Seederama Trading dan Marlan Nursery, yang juga menulis buku soal sansevieria, adalah:
1. Sansevieria trifasciata
Jenis ini yang sering disebut sebagai tanaman ular. Ujung daun meruncing, tapi tidak berduri. Pada malam hari biasanya mengeluarkan aroma harum. Daunnya yang masih muda tumbuh tepat di tengah-tengah roset yang berdiri lempang ke atas. Awalnya, pertumbuhan tampak seperti lidi. Jenis trifasciata yang telah disilang menghasilkan varietas baru, antara lain:
~ Sansevieria trifasciata golden hahnii
Penampilan fisiknya hampir sama dengan hahnii. Bedanya ada pada warna daun yang hijau muda dengan kombinasi warna kuning emas, dan berbentuk pita pada bagian tepi daun.
~ Sansevieria trifasciata lorentii
Daunnya rata dan tumbuh tegak dengan tinggi 40 cm-100 cm. Pinggir daun berwarna kuning dan tampak tegas, sedang di bagian tengahnya ada warna kuning yang menyebar tidak beraturan. Jumlah daunnya bisa mencapai lebih dari 10 helai dan pertumbuhannya paling cepat dibandingkan jenis lainnya.
~ Sansevieria trifasciata bantel's sensation atau white sansevieria
Daunnya tumbuh merapat dan tegak lurus. Antarhelai daun saling bertumpuk simetris dengan warna dasar putih, bercorak hijau, dan tepi daun warna hijaunya lebih tegas. Pertumbuhannya paling lambat dibandingkan dengan jenis lain.
~ Sansevieria trifasciata futura
Ciri-cirinya mirip dengan lorentii, tapi daunnya lebih lebar dan lebih pendek. Corak dan warna daunnya juga lebih jelas. Selain itu, bentuknya menyerupai kelopak bunga mawar.
2. Sansevieria liberica
Boleh dibilang, jenis ini memiliki daun yang paling besar dan panjang. Tumbuh kokoh ke atas dan agak tebal. Jika diperhatikan warna daunnya, tampak kombinasi hijau-putih, namun warna putih lebih menonjol.
3. Sansevieria cylindrica
Sesuai dengan namanya, ia memiliki daun yang tumbuh memanjang ke atas dan berbentuk silinder. Daunnya kaku dan sangat tebal dengan warna hijau tua dengan alur-alur hitam keabu-abuan bercampur hijau muda.
Diambil Dari : www.daunbagus.com
Diposting oleh bj-sanse member of Kediri Indonesia Sansevieria Soceity (KISS) di 23.59 0 komentar
Label: Laris, Sansevieria
Teknik Cacah Sansevieria
Selama 2 tahun, 4 pot Sansevieria kirkii 3-4 daun koleksi Iwan Hendrayanta di Permata Hijau, Jakarta Barat, bermetamorfosis jadi 400 tanaman baru.
Si lidah mertua tembaga itu dicacah-cacah daunnya membentuk persegi panjang sepanjang 5-7 cm. Lalu ditancap-tancapkan di media pasir hingga mengeluarkan anakan.
Kalau dibiarkan 'bereproduksi' alami paling hanya didapat 1-2 anakan per tahun. Maklum kirkii termasuk jenis yang lamban tumbuh. Makanya ketua Perhimpunan Florikultura Indonesia yang hobiis sansevieria itu mencoba memotong-motong daun kirkii. 'Setek' daun itu lantas dibenamkan di media pasir. Hasilnya dari 1 potong daun muncul 2-3 anakan sekaligus dalam hitungan bulan.
Cara serupa juga dicoba A. Gembong Kartiko, pekebun di Batu, Jawa Timur. Pemilik Sapta Plant & Pottery itu menyebut cara itu sebagai teknik potong tahu. 'Daunnya kan dipotong-potong seperti potongan tahu,' kata Gembong. Caranya, daun kirkii dewasa sepanjang minimal 15 cm dicacah menjadi 5 bagian. Artinya, setiap potong hanya sepanjang 3 cm. Namun, buat pemula pria berambut gondrong itu menyarankan ukuran lebih panjang supaya aman.
Gembong menyemai di media campuran sekam bakar dan pasir malang dengan perbandingan 1:3. Selama 2 minggu cacahan tidak perlu disiram. Memasuki minggu ke-3 baru siram menggunakan larutan mengandung hormon perangsang tumbuh. Sekitar 3-4 bulan kemudian, tunas baru bermunculan. Setelah 6 bulan pascapencacahan, anakan dengan 4 daun siap dijual.
Di Solo, Andy Solviano Fajar, mencoba teknik cacah pada jenis congo. Potongan daun berukuran 3,5 cm x 3,5 cm atau 5 cm x 5 cm ditanam di media pasir malang dan sekam bakar dengan perbandingan sama. Dalam 4 bulan didapat anakan baru.
Pabrik anakan
Keuntungan teknik cacah, anakan dihasilkan terus-menerus. 'Anakan hasil perbanyakan dengan cacah bisa langsung jadi indukan begitu daunnya dewasa,' kata Iwan. Penggemar encephalarthos itu menyebutnya perbanyakan dari daun ke daun. Karena setiap daun baru potensial jadi indukan untuk perbanyakan berikut, anakan pun seperti tak ada habis-habisnya.
Namun, tidak semua lidah mertua bisa diduplikasi dengan cara cacah daun. 'Sansevieria bermotif belang, terutama hijau kuning atau hijau putih, tidak bisa diperbanyak dengan memotong daun,' ujar Iwan. Risikonya, anakan yang dihasilkan berbeda dengan indukan. Bila tunas muncul dari bagian berwarna hijau, individu baru yang muncul juga hijau.
Risiko busuk lumayan besar, 50%. Penyebab utama, serangan cendawan dan bakteri lantaran pisau tidak steril, bagian luka tidak terlindung fungisida dan bakterisida, serta media terlalu lembap karena air siraman menggenang. Kendala lain, akar lambat tumbuh sehingga pertumbuhan anakan pun terhambat.
Untuk mempercepat akar tumbuh, Andy membungkus bagian bawah cacahan daun dengan tisu. Posisi cacahan tidak ditanam, tapi dibaringkan di atas media. Lalu disiram secara terus-menerus selama 1 bulan dengan larutan perangsang akar. Setelah akar keluar, baru ditanam di media campuran pasir malang dan sekam bakar. Jika ingin memacu tunas lebih cepat tumbuh dan bongsor, sungkup dengan plastik bening. Pertumbuhan daun baru 2 kali lebih bongsor dibanding tanpa sungkup
Diambil dari : www.Daunbagus.com
Diposting oleh bj-sanse member of Kediri Indonesia Sansevieria Soceity (KISS) di 23.57 0 komentar
Label: Sansevieria, teknik cacah


