Tampilkan postingan dengan label Sanseveira. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sanseveira. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Januari 2009

Selamat Tahun Baru 2009

Selamat Tahun Baru 2009, Semoga di tahun ini kita semakin mendapatkan banyak rejeki, barokah dan Panjang umur. Selain itu pula semoga di tahun 2009 ini Sansevieria semakin jaya dan komunitas Sanse se-Indonesia dan Dunia bisa bergabung dan mengembangkan Sansevieria.

Kami selaku pengelola web site ini, meminta maaf apabila di Tahun 2008 lalu banyak ke-khilafan dan kesalahan baik yang disengaja maupun tidak disengaja, kami mohon maaf sebesar-besarnya.

Seperti nama sanse Gold Flame, di tahun ini kita bisa menyala seperti obor yang menerangi kegelapan malam. Dengan sanse kita bisa membantu dunia dengan mengurangi polusi dan menjadikan lingkungan lebih hijau (GO GREEN). Di tahun 2009 ini harus lebih baik dan lebih dahyat dari tahun sebelumnya.

Salam Sanse Dahsyaaat !!!!!!!

SELAMAT TAHUN BARU 2009

Selasa, 12 Februari 2008

Sansevieria Ehrenbergii

Ini dia varian baru bentuknya seperti Sansevieria Rodida eh ternyata namanya Sansevieria Ehrenbergii (Kerenn Boo... Namanya)

Kingdom: Plantae
Division: Magnoliophyta
Class: Liliopsida
Order: Asparagales
Family: Ruscaceae
Genus: Sansevieria
Species: S. ehrenbergii

Minggu, 10 Februari 2008

Sansevieria Fischeri

Family: Dracaenaceae
Habitat: Kenya, Tanzania, Ethiopia, Somalia
Soil: Mix
Water: Medium
Sun: Medium
Thickness: 10 centimetres
Height: 2,4 centimetres
Flower: White
Reproduction: Seeds/Cuttings
Pop names: -
Synonyms: Buphane fischeri, Baker 1898
Got it from: Hellevoetsluis, The Netherlands

Sanseveira Suffruticosa

Frost Tolerance: Avoid any frost
Heat Tolerance: Afternoon shade in Phoenix
Sun Exposure: Light shade
Origin: Kenya
Watering Needs: Keep really dry in winter

Kamis, 07 Februari 2008

Sanseveira Gracilis


Frost Tolerance: Avoid any frost
Sun Exposure: Bright shade or full sun
Origin: Eastern Africa
Growth Habits: Watering Needs: Keep really dry in winter

Jumat, 01 Februari 2008

Sanse Varigata

Hampir seluruh daun Sansevieria caulescens koleksi Edi Sebayang itu berwarna putih. Hanya beberapa daun yang bersemburat hijau. Padahal, lazimnya hijau polos. Pantas hobiis lidah mertua di Tangerang itu rela merogoh kocek Rp40-juta untuk memboyong tanaman asal negeri Paman Sam itu.

Aneh, itulah alasan yang meluluhkan hati Edi sehingga tak berpikir panjang untuk memesan Sansevieria caulescens variegata asal Florida, Amerika Serikat. Lidah mertua variegata lain yang dipesan adalah Sansevieria pearsonii. Seperti yang pertama, hampir seluruh daunnya berwarna putih kekuningan. Harganya pun tak kalah fantastis, Rp36-juta.

Nun di Yogyakarta, ada Aris Andi yang juga keranjingan mengoleksi sansevieria variegata. Salah satu koleksinya yang paling eksklusif Sansevieria masoniana variegata. Lidah mertua berdaun lebar itu didominasi warna kuning cerah. Bahkan, salah satu daun berwarna kuning polos. Sama 'gila'-nya dengan Edi, Aris tak segan menggelontorkan Rp30-juta demi sepot sansevieria belang.

Sulit

Edi dan Aris hanya segelintir orang yang menggilai lidah jin abnormal. Buktinya pada ajang kontes sansevieria di Yogyakarta pada awal Desember 2007, kelas unik warna dibanjiri peserta. Kelas ini mewadahi peserta yang memiliki koleksi sansevieria variegata dan mutasi warna daun lainnya. Tercatat 11 peserta terjun di kelas itu. Begitu juga di kontes yang diselenggarakan di Surabaya, 32 peserta beradu unik untuk merebut gelar juara.

Di kalangan hobiis sansevieria, variegata memang selalu menjadi incaran. Maklum, kemungkinan untuk menghasilkan ketidaklaziman itu sulit. Apalagi bila diperoleh dari hasil reproduksi generatif. 'Dari sejuta tanaman paling hanya satu yang variegata,' ujar Benny Tjia, PhD, doktor hortikultura dari Universitas Florida, Amerika Serikat. Itulah sebabnya tanaman variegata langka dan harganya selangit.

Maka memiliki sansevieria variegata ibarat sebuah berkah. Itu dialami dr Purbo Djojokusumo, hobiis sansevieria di Jakarta. Sansevieria halii berkadar variegata 30-60% miliknya dibeli dengan harga US$1.000 atau setara Rp9,4-juta per daun oleh pembeli asal Jepang. Tinggi daun sekitar 30 cm. Padahal, harga halii normal ukuran 10 cm yang baru diimpor dari Panama cuma Rp500.000/daun. Artinya, nilainya terdongkrak hingga 6 kali lipat.

Menurut Dr Soeranto Hoeman, peneliti Bidang Pertanian Kelompok Pemuliaan Tanaman Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), variegata disebabkan mutasi pada gen kloroplas yang terdapat di dalam sitoplasma. Itulah sebabnya kelainan itu juga disebut extranuclear mutation alias mutasi di luar inti sel. Mutasi itu menyebabkan kerusakan gen mutan sehingga mengganggu produksi klorofil yang berperan dalam fotosintesis. Tandanya muncul belang hijau-kuning di daun.

Mutasi itu menyebabkan berkurangnya jumlah grana yang mengandung klorofil. Grana berperan menyerap sinar matahari yang diperlukan untuk fotosintesis. Namun, karena jumlah grana pada tanaman variegata terbatas, intensitas sinar matahari yang diperlukan pun hanya sedikit. Itulah sebabnya bila intensitas cahaya berlebihan dapat menyebabkan terbakarnya jaringan daun.

Kerdil

Mutasi di luar inti sel juga dapat menyebabkan tanaman menjadi dwarf alias kerdil, seperti terjadi pada Sansevieria ehrenbergii koleksi Aris Andi. Tinggi tanaman hanya 15 cm dan panjang daun tak lebih dari 10 cm. Susunan daun juga tampak sesak dan roset. Padahal tanaman normal, susunan daun membentuk seperti kipas. Panjang daun pun bisa mencapai lebih dari 20 cm.

Mutasi juga dapat terjadi pada gen pengontrol pigmen. Salah satunya dialami koleksi Ir Sentot Pramono, hobiis di Jakarta. Beberapa daun Sansevieria trifasciata 'bantles black' miliknya berwarna hijau pekat polos hampir kehitaman. Bandingkan dengan 'bantle sensation' yang berwarna hijau kusam.

Soeranto menuturkan perubahan warna terjadi bila salah satu pigmen termutasi menjadi dominan dan pigmen warna lainnya tertekan alias resesif. Pada kasus Sentot, warna hijau tua-lah yang menjadi dominan. Kondisi serupa juga terjadi pada Sansevieria halii 'pink bat'. Warna resesif muncul menyelimuti permukaan daun yang berwarna hijau tua.

Lain lagi yang terjadi pada Sansevieria trifasciata hahnii 'twister'. Disebut demikian karena bentuk daun melintir menyerupai angin puting beliung. Soeranto berpendapat kelainan seperti itu akibat kromosom yang patah sehingga kehilangan satu atau lebih segmen gen dalam kromosom. Akibatnya tanaman mengalami 'cacat' secara genetis yang menyebabkan pertumbuhan menjadi tak lazim.

Sinar matahari

Lalu, apa penyebab mutasi? Mutasi dapat terjadi secara spontan di alam. Salah satu penyebabnya, 'Intensitas sinar matahari yang terus-menerus,' kata Soeranto. Sinar matahari memiliki spektrum yang beragam berdasarkan panjang gelombang elektromagnetik. Salah satunya adalah sinar-X dan gamma yang bergelombang pendek. Keduanya merupakan radiasi pengion (ionizing radiation) yang dapat melepas energi (ionisasi) ketika melewati atau menembus materi.

Proses ionisasi itu terjadi dalam jaringan tanaman sehingga menyebabkan perubahan sel, genom, kromosom, dan DNA atau gen. Perubahan itulah yang disebut mutasi. Hanya saja intensitas sinar-X dan gamma dalam sinar matahari sangat rendah. Oleh sebab itu mutasi di alam sangat lamban.

Teknologi saat ini mampu menghasilkan radiasi sinar gamma dengan intensitas tinggi. Hasilnya, mutasi didapat dalam waktu singkat. Itulah sebabnya teknologi ini seringkali dimanfaatkan dalam pemuliaan tanaman.

Mutasi juga dapat terjadi dengan menginduksi mutagen yang berasal dari bahan-bahan kimia yang termasuk dalam gugus alkil aktif seperti etil metansulfonat (EMS), dietil sulfat (dES), dan metil metansulfonat (MMS). Gugus itu dapat ditransfer ke molekul lain yang memiliki kepadatan elektron cukup tinggi seperti grup fosfat dan molekul purin, serta pirimidin yang merupakan penyusun struktur asam deoksiribonukleat (DNA). Akibatnya struktur DNA pada tanaman berubah.

Meski demikian, ada kalanya tanaman mutasi kembali normal bila dikembangbiakkan secara generatif. Walaupun mengalami mutasi, tanaman mutan tetap menyimpan gen normal. Pada generasi tertentu, gen normal itu berpeluang kembali muncul. 'Mutasi akan bertahan bila bagian tanaman yang mengalami mutasi diisolasi dan diperbanyak dengan cara kultur jaringan,' tutur Soeranto. Mutasi yang didamba pun tak akan sirna.

Diambil dari : Trubus-online.com, 1 Februari 2007

Kuku Bima/Fischeri


Lidah naga berdaun bulat itu disebut kuku bima karena bentuknya seperti kuku raksasa. Bedanya dengan douglas dan coral blue, bukan kuku bimanya yang simpang siur, tapi nama spesiesnya. Mulanya ia disebut S. aethiopica karena literatur domestik menyebutnya demikian. Belakangan dikoreksi karena referensi internasional menggolongkannya sebagai S. fischeri.

Coral Blue


Coral blue

Yang juga hanya populer di tanahair ialah coral blue. Ia sebetulnya S. kirkii var kirkii. Daun yang mempunyai bercak mirip koral di terumbu karang itu menjadi inspirasi. Meski baru lahir 2 tahun, coral blue menjadi sansevieria paling dicari di Jawa Timur.***

Cacah US$1.000


Pernah mencacah uang senilai US$1.000? Konglomerat papan atas pun mungkin enggan mencacah uang yang nilainya setara Rp9,4-juta. Namun, Iwan Hendrayanta, ketua Perhimpunan Florikultura Indonesia (PFI) melakukan perbuatan nekat itu. Setahun silam, ia menyiapkan 10 lembar uang senilai US$100 untuk memenuhi hasratnya melakukan mutilasi.

Cerita itu bermula di Milan, Italia, kala Iwan mengantar keluarganya berlibur ke Eropa. Ia memisahkan diri dari keluarganya dan mampir di sebuah nurseri di kota yang terkenal karena 2 klub sepakbolanya yang mendunia itu. Di sana ia kesengsem sepot Sansevieria kirkii 'douglas' yang warnanya agak kebiruan. Sayang, sang pemilik hanya mau menyerahkan anakan 1 daun sepanjang 1 m dengan harga US$1.000. 'Saya betul-betul kesengsem karena langka, tapi tak sempat menawar. Jadi, 10 lembar itu saya serahkan,' katanya.

Di tanahair lidah naga yang lebih mirip tongkat itu dipulihkan dengan tak sabar selama sebulan. Setelah itu, ia menyiapkan pisau tajamnya. Dan, sreeb! Logam mengkilap itu memotong daun itu menjadi 15 bagian. Uang yang setara dengan sebuah laptop kelas menengah itu menjadi potongan kecil. Iwan disebut nekat karena ia belum mengenal karakter douglas.

Benar saja, potongan berukuran 5 cm itu baru memunculkan akar 6 bulan kemudian. 'Meski sudah keluar akar, belum tentu hidup,' katanya. Namun, rupanya ada yang lebih 'gila' dari Iwan. Agustus 2007 lalu seorang kolektor dari Jepang membeli 6 potongan itu seharga Rp6-juta. Artinya, sepotong daun berukuran 5 cm yang tak jelas bakal bertahan hidup laku Rp1-juta

Diambil dari : Trubus Online, Trubus-online.com

Kamis, 24 Januari 2008

Sansevieria francisii


Berbentuk silindris dan solid

Sansevieria francisii

Plant & Photo: Robert Streul, USA

Sansevieria eilensis (Chahinian)


Ditanam di pot standar 4 inchi atau disesuaikan dengan perakaran dari tanaman.

Panjang daun kira-kira sekitar 5,08 cm dengan lebar 1,27 cm. Dalam tiap tahun tanaman ini bisa tumbuh 1 daun.

Sanseveira Bacularis


Tinggi tanaman sekitar 13 inchi, biasanya hanya mempunyai 2 buah daun.

Prinsip Dasar Penyiraman Sanseveira

Namun, sejak awal abad ke-19, tanaman ini pun mulai naik pamornya. Sansevieria dianggap sebagai komoditas tanaman hias yang penting di dunia. Bentuk dan corak daunnya yang indah dan sangat beragam ternyata mampu memikat hati para penggemar tanaman hias.

Untuk mendapatkan sansevieria yang indah dan memukau, tentu tidak terlepas dari teknik perawatan yang tepat. Sifatnya yang bandel dan tahan terhadap kondisi tumbuh seperti apa pun, membuat sansevieria sangat mudah dirawat. Namun tetap saja, kita harus sungguh-sungguh dalam melakukan perawatan tersebut.

Salah satu faktor yang perlu diketahui dalam perawatan sansevieria ini adalah penyiraman. Penyiraman merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan air tanaman dan mengganti kehilangan air dari media. Besarnya kebutuhan air sangat dipengaruhi oleh jenis sansevieria, fase pertumbuhan tanaman, suhu lingkungan, kondisi pencahayaan, dan kondisi lingkungan (indoor atau outdoor).

Berikut ini adalah prinsip dasar penyiraman sansivieria yang bisa Anda terapkan.

  • Jenis sansevieria yang berdaun lebar dan tipis, seperti S. trifasciata, membutuhkan air lebih banyak dibandingkan dengan jenis yang mempunyai daun tebal dan sempit seperti S. cylindrica.
  • Pada lingkungan dengan suhu tinggi, kelembapan udara rendah, dan sinar matahari melimpah, kebutuhan air lebih tinggi. Sebaliknya, pada suhu rendah, minim cahaya matahari, dan kelembapan udara tinggi akan menurunkan tingkat kebutuhan air.
  • Jenis wadah memengaruhi jumlah air yang dibutuhkan. Pot yang terbuat dari tanah liat akan meloloskan uap air dari permukaannya, sehingga air dalam media tanam akan segera habis.
  • Gejala kelebihan air sama dengan gejala kekurangan air, di antaranya tanaman layu, warna tepi daun menjadi kecokelatan, daun baru tumbuh kerdil, dan pertumbuhan terhambat.
  • Kelebihan air dapat mendorong oksigen keluar dari media tanam tanaman. Tenaman akan mudah terserang oleh berbagai penyakit, baik yang disebabkan oleh jamur maupun bakteri
Disarikan dari : Pesona Sanseveira, Penerbit Agromedia

Khasiat Sanseveira Trifasciata Prain








Khasiat

Rimpang Sansevieria trifasciata berkhasiat sebagai obat batuk dan daunnya untuk obat luka akibat digigit ular. Untuk obat batuk dipakai 2 sendok teh serbuk kering dari akar Sanseveiria

trifasciata, diseduh dengan 1 gelas air matang panas, dinginkan lalu sekaligus.

Kandungan kimia

Daun dan rimpang Sansevieria trifasciata mengandung saponin dan kardenolin, di samping itu daunnya juga mengandung polifenol

Antisipasi Penyakit Sanseveira

Antisipasi Hama dan Penyakit

Pada dasarnya tidak terlalu banyak hama dan penyakit yang menyerang sansevieria. Namun demikian beberapa hama dan patogen penyebab penyakit sering mengganggu pertumbuhan tanaman ini. Hama pada sansevieria umumnya dari jenis serangga yang merusak tanaman. Sedangkan penyakit yang menyerang adalah jamur dan bakteri.

  • Hama

Siput

Siput yang telanjang atau yang berumah akan menyerang bagian daun, bahkan akar tanaman. Gejalanya mudah dikenali, karena tampak adanya bekas gigitan pada daun dan kotoran yang berserakan di sekitar tanaman. Siput aktif menyerang sansevieria pada malam hari. “Pada umumnya, pemberantasan hama ini bisa dilakukan secara manual, yakni dengan cara mengambil dan membuang siput yang umumnya berada di bagian bawah daun. Akan tetapi, bila serangannya cukup hebat, dapat digunakan melusida Metaphar atau Moluskil dengan dosis sesuai anjuran,” ujar Syaichul.

Thrips

Selain siput, hama jenis thrips juga sering menyebabkan kerusakan yang parah. Hama jenis ini menghisap cairan tanaman, sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman. Di Indoensia, thrips yang menyerang biasanya dari jenis Herciotrips Feronalis. Hama ini biasanya akan menyerang pada musim kemarau. Thrips dapat diberantas dengan Kelthane, Tracer, atau Supracide dengan dosis sesuai anjuran.

Penyakit

Penyakit yang menyerang sansevieria umumnya merupakan gangguan yang diakibatkan oleh adanya patogen atau jasad renik yang tidak terlihat oleh mata biasa.

  • Busuk lunak (becterial stem rot)

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Erwinia Carotovora yang menyerang daun atau akar tanaman, terutama menginfeksi melalui luka yang menganga. Daun atau akar yang terserang tampak berwarna kecoklat-coklatan dan terasa lunak bila dipegang, berlendir, serta berbau tidak enak, dan lama kelamaan akan berubah seperti bubur.

Penyakit ini muncul apabila kondisi tanaman lembab akibat hujan yang terus menerus dan kurang cahaya. Patogen ini cepat menyebar melalui perantara air, serangga, tangan, alat pertanian, ataupun pakaian pekerja.

Cara mengatasi serangan patogen ini adalah dengan memangkas bagian yang terkena serangan dan mengolesinya dengan Na-hipoklorit (Clorox), serta membakar bagian yang terkena serangan. Sementara, untuk mencegah serangan bagian lainnya digunakan bakterisida Agrept sesuai dosis anjuran.

  • Busuk akar

Busuk akar disebabkan oleh jamur Aspergillus niger. Jamur ini muncul apabila kondisi media tumbuh terlalu basah. Apabila jamur ini telah menyerang, satu-satunya cara agar serangan tidak meluas adalah sebagai berikut :

  1. Angkat tanaman dan potong akar yang busuk. Akan terlihat kumpulan spora jamur yang berwarna coklat kehitam-hitaman.
  2. Cuci perakaran sampai bersih dan rendam sebentar dalam larutan fungisida (misalnya : Aliette dengan dosis sesuai anjuran dan labelnya).
  3. Tanaman dalam media baru.
  4. Bakar media yang lama, karena telah tercemar spora jamur.
  • Bercak daun

Gejala serangan penyakit yang disebabkan oleh jamur Fusarium Moniliforme ini khas sekali, yaitu munculnya warna ungu kemerah-merahan pada daun yang terserang. Selanjutnya, bercak kemerah-merahan akan melebar dan membentuk luka. Pemupukan nitrogen yang terlalu tinggi akan memacu serangan fusarium ini.

Untuk mencegah meluasnya serangan, lakukan langkah-langkah berikut :

- Mula-mula, keluarkan tanaman dari pot dan buang bagian yang sakit.

- Selanjutnya, tanam dalam media baru dan semprot dengan fungisida (misalnya : Benlate, Dithane, atau Antracol dengan dosis sesuai label).

Cara pengendalian Hama & Penyakit Sansevieria

“Terdapat empatjenis pengendalian yang sering saya gunakan sebagai tindakan pencegahan. Tindakan tersebut antara lain pengendalian mekanis, sanitasi, kultur teknis, dan pengendalian kimiawi,” kata Syaichul.

  • Pengendalian mekanis

Pengendalian secara mekanis dilakukan apabila serangan hama masih dalam jumlah terbatas. Misalnya, siput dapat diambil dengan tangan dan dibunuh. Demikian juga dengan kutu yang terdapat pada bagian daun dapat didorong dengan kuku dan dibunuh. Semut-semut yang tidak terlalu banyak pun dapat diambil secara manual dengan tangan.

  • Sanitasi

Menjaga kebersihan lingkungan merupakan salah satu cara untuk menangkal serangan hama dan penyakit. Gulma yang tumbuh di sekitar tanaman merupakan tempat persembunyian yang disukai hama dan patogen penyebab penyakit. Dengan membersihkan kebun secara rutin, hama tidak mempunyai kesempatan untuk bersembunyi. Selain itu, kebun yang bersih akan sedap dipandang dan merupakan lingkungan kerja yang baik.

  • Kultur teknis

Pemeliharaan tanaman yang baik dapat meningkatkan kesehatan tanaman. Penyiraman, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, serta penggantian media tumbuh dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Secara tidak langsung, kultur teknis yang baik dapat memantau keberadaan hama dan penyakit secara dini.

  • Pengendalian Kimiawi
Apabila serangan hama dan penyakit telah berada di ambang batas atau mencapai 10%, pengendalian secara kimiawi merupakan pilihan. Akan tetapi, pemakaian bahan kimia secara berlebihan akan membawa dampak negatif bagi lingkungan. Untuk itulah penggunaanya harus terkontrol

Pesona Sanse Media PAsir Laut

Nun di Yogyakarta, ada juga Yoe Kok Siong, yang membuat sansevieria mini dengan cara tak lazim. Pemilik nurseri Kaliurang Garden Center itu menumbuhkan sansevieria dari kelompok trifasciata di media pasir laut. Semuanya berawal dari kebetulan belaka. Ketika itu setahun silam, ia mengambil pasir laut untuk dihamparkan di taman. Tak disangka, sansevieria yang terkena pasir laut tumbuh bagus. Padahal, sebelumnya lidah mertua itu terabaikan lantaran membusuk di pot dengan media biasa-campuran tanah, kompos, dan sekam.

Ia pun memindahkan sepot lidah naga ke dalam pot kecil dengan media pasir laut murni. 'Pasir cukup dijemur sampai kering, baru dipakai sebagai media,' katanya. Benar saja, sang lidah jin tumbuh prima meski berukuran mini. Pengusaha jamu itu lalu meletakkannya di atas meja selama berbulan-bulan tanpa penyiraman. Menurut Yoe, sansevieria tetap mendapat pasokan air karena kelembapan Kaliurang tinggi. Diduga pasir laut mampu menyerap butiran air dari udara. Sementara sosok mini terjadi karena ukuran pot kecil, sehingga pergerakan akar dan daun terhambat. Media itu berhasil menumbuhkan sansevieria mini sebanyak 400 pot.

Menurut Lanny Lingga, praktisi tanaman hias di Bogor, sebetulnya sansevieria tak menyukai media dengan elektrokonduktivitas (tingkat penghantaran listrik yang dipengaruhi jumlah kation dan anion, red) tinggi dan suasana basa. Kemungkinan besar pasir pantai memiliki elektrokonduktivitas tinggi dan suasana basa karena tingginya kadar garam, 'Bila yang digunakan pasir pantai, kadar garam tinggi, karena terjadi proses pengendapan garam. Lidah mertua bisa keracunan garam dan busuk karena bakteri. Soalnya, bakteri menyukai suasana basa,' tutur Lanny.

Namun, bukan berarti pasir laut tak bisa digunakan. 'Saat ini banyak pasir laut yang dipakai sebagai media. Ia bukan pasir dari tepi pantai, tapi diambil dari tengah laut dengan cara membor,' kata Lanny. Yang disebut terakhir memang cocok digunakan sebagai media sansevieria maupun tanaman lain. Pasalnya, ia tak mengandung kadar garam yang tinggi dan pH netral.

Tertarik membuat sansevieria mini? 'Coba saja dengan media apa pun. Prinsipnya, minimkan hara dan tanam di pot kecil,' kata Gembong. Si kerdil pun tak hanya dinikmati di negeri liliput. Menurut Yoe, kecantikan si mungil bisa dinikmati di atas meja, bahkan di samping komputer, di ruang kerja

Pesona Trifasciata

Inilah legenda karya Jonathan Swift! Di tepi pantai, Gulliver, dokter muda asal Inggris, tergolek pingsan. Ia terdampar setelah kapal layarnya karam dihantam gelombang. Betapa terkejutnya Gulliver kala tersadar. Seluruh tubuh terikat. Ratusan prajurit mini-seukuran 6 inci setara 15 cm-mengelilingi dengan senjata terhunus. Kisah di negeri liliput itu begitu populer ke penjuru negeri. Namun, di Penang, Malaysia, bukan prajurit mini yang terkenal. Di sana, sansevieria mini seukuran 5-15 cm mulai populer.

Pantas sansevieria mini digandrungi hobiis Malaysia. 'Sosoknya imut. Itu menjadi daya tarik buat hobiis pemula,' kata Tham Peng Hooi, pemilik Xiang Fook Garden. Pada Pameran Bunga di Taman Botani Pulau Penang misalnya. Trubus melihat sebagian besar gadis dan ibu rumahtangga yang keluar dari stan Xiang Fook menenteng jinjingan berisi si liliput. Padahal, lidah jin-sebutan sansevieria di negeri jiran-itu dibandrol dengan harga tinggi.

Sebut saja sansevieria dari keluarga trifasciata. Ia dibandrol dengan harga rata-rata RM28 setara Rp70.000. Bandingkan dengan sansevieria serupa yang bersosok biasa, harganya hanya Rp15.000-Rp20.000. 'Bila tak dibuat mini, jarang dilirik. Dianggap tanaman biasa,' ujar Tham. Menurutnya, ide membuat sansevieria mini berasal dari ayahnya, Tham Hok Cheng. Tham senior 'mengerdilkan' sansevieria agar tanaman itu bisa diletakkan di atas meja: di samping komputer atau di dekat asbak.

Ketika itu 2 tahun silam, keluarga Tham mendapat informasi sansevieria bermanfaat bagi lingkungan. 'Kabarnya dia (sansevieria, red) antipolusi dan antiradiasi. Bukankah cocok diletakkan di meja perokok dan pegawai yang selalu di depan komputer?' tanya Tham senior. Lidah naga-sebutannya di China-pun dibuat mini dengan cara sederhana. Rimpang atau anakan sansevieria yang baru muncul ditanam di pot mini berdiameter 8-12 cm dengan media cocopeat murni. Pertumbuhan sansevieria pun terhambat karena media miskin hara

Potong Tahu Sansevieria


Kirkii Coppertone itu dicacah-cacah daunnya membentuk persegi panjang sepanjang 5-7 cm. Lalu ditancap-tancapkan di media pasir hingga mengeluarkan anakan.

Kalau dibiarkan 'bereproduksi' alami paling hanya didapat 1-2 anakan per tahun. Maklum kirkii termasuk jenis yang lamban tumbuh. Makanya ketua Perhimpunan Florikultura Indonesia yang hobiis sansevieria itu mencoba memotong-motong daun kirkii. 'Setek' daun itu lantas dibenamkan di media pasir. Hasilnya dari 1 potong daun muncul

2-3 anakan sekaligus dalam hitungan bulan.

Cara serupa juga dicoba A. Gembong Kartiko, pekebun di Batu, Jawa Timur. Pemilik Sapta Plant & Pottery itu menyebut cara itu sebagai teknik potong tahu. 'Daunnya kan dipotong-potong seperti potongan tahu,' kata Gembong. Caranya, daun kirkii dewasa sepanjang minimal 15 cm dicacah menjadi 5 bagian. Artinya, setiap potong hanya sepanjang 3 cm. Namun, buat pemula pria berambut gondrong itu menyarankan ukuran lebih panjang supaya aman.

Gembong menyemai di media campuran sekam bakar dan pasir malang dengan perbandingan 1:3. Selama 2 minggu cacahan tidak perlu disiram. Memasuki minggu ke-3 baru siram menggunakan larutan mengandung hormon perangsang tumbuh. Sekitar 3-4 bulan kemudian, tunas baru bermunculan. Setelah 6 bulan pascapencacahan, anakan dengan 4 daun siap dijual.

Di Solo, Andy Solviano Fajar, mencoba teknik cacah pada jenis congo. Potongan daun berukuran 3,5 cm x 3,5 cm atau 5 cm x 5 cm ditanam di media pasir malang dan sekam bakar dengan perbandingan sama. Dalam 4 bulan didapat anakan baru